Mojave Mics: Sebuah Kualitas dan Detil Yang Sangat ‘WAH’!

Apakah anda pernah mendengar sebuah merk microphone yang bernama Mojave? Jika anda pernah mendengarnya, jangan ragu-ragu untuk menggunakan microphone ciamik ini. Apabila belum, saya akan bercerita sedikit tentang sejarah microphone ini dan faktor-faktor yang membedakan microphone ini dengan yang lain. Dimulai pada tahun 1995 oleh seorang microphone designer bertangan dingin bernama David Royer ⎯ Ya, apabila anda merasa nama belakang dari designer microphone ini cukup familiar, David Royer juga merupakan designer yang bertanggung jawab atas inovasi produk-produk microphone ribbon dari pabrikan Royer Labs. Kecintaan David Royer akan musik lah yang mendorongnya untuk terus berinovasi dalam microphone design. Selain itu, ia juga memegang teguh prinsip dimana musik dan audio tidak dapat dipisahkan dari electronic design. Pemikiran yang cukup fantastis, bukan?

 Pic. 1. Stevie Wonder ketika ‘menjajal’ Mojave MA201FET

Pemikiran dan prinsip yang kuat dari David Royer inilah yang akhirnya ditanamkan dalam setiap produk keluaran Mojave mics . Dimulai dari tempat awal pembuatan microphone yang berlokasi di Burbank, California, tube atau tabung NOS (New Old Stock) serta trafo Jensen produksi Amerika pun juga digunakan sebagai komponen utama untuk produk-produk dari Mojave mics. Tidak hanya itu, Mojave mics sangat menyadari pentingnya berinvestasi dalam kualitas komponen audio yang membuat mereka untuk meng-custom resistor unit untuk produk-produk mereka. Luar biasa!

 Pic. 2. David Royer ‘sang designer microphone’

 Pic. 3. Mojave MA200 tube microphone

 Pic. 4. Mojave MA201 FET microphone

Di samping kualitas ‘jeroan’ atau komponen microphone ini, kualitas keseluruhan juga diuji lewat proses ‘burned in’ yang memakan waktu hingga 24 jam serta listening test yang dilakukan sendiri oleh David Royer. Pada akhirnya, tidak mengherankan microphone dari pabrikan Mojave mendapat banyak pujian dari para praktisi audio serta musisi. Berikut ini adalah beberapa kutipan yang dapat dirangkum:

 

“Those mics kick ass. I can now answer the repeating question on Gearslutz:
‘If you only could have one mic, which one? The MA200. Great mics! And the MA-201fet is big and fat, and packs an extra midrange punch that sounds great on vocals, drums and guitars.”

Michael Wagener, Engineer: Ozzy Osbourne, Metallica, Skid Row, Extreme, King’s X

 

“Dudes, the MA 200 KILLED the M49′s that Dave had thrown up for me as room mics. These mics are open, fat and clear -they are killing with NO eq ….”
Ross Hogarth, Producer/Engineer: Ziggy Marley,Jewel, Black Crowes, REM

 

“The MA-200 instantly became an integral part of my drum sounds. From the moment I firstput a pair up, they have continued to impress me with a wide open and balanced sound. I’vetracked great sounding vocals, drums, guitars and bass through these mics, and my clients areconsistently blown away by the results.”
Ryan Hewitt, Engineer/Mixer: Red Hot Chili Peppers, blink-182, Alkaline Trio

 

“Mojaves are incredible….. I’ll be using them on everything!”
Frank Serafine, Sound Designer, Star Trek, Lawnmower Man, P.U.N.K.S.

 

“I just purchased an MA-200, IT’S WONDERFUL!!!  I will use it in my voiceover studio – replacing an AKG 414B-ULS and a lot of processing.”
Bob Wood, Voice-over Artist: Gilligan’s Island, The Miracle of the Cards

@big_knob supports @disciplesRAP #JesusRockLive

Tanggal 25 April 2012 kemarin di Upper Room; Annex Building Jakarta digelar konser hip-hop rohani kristen pertama di Indonesia bertajuk “Jesus Rock” dari sebuah grup bernama Disciples. Disciples sendiri terdiri dari Igor Saykoji ( @saykoji ), Joshua J-Flow ( @jflowrighthere ), Guntur Simbolon ( @guntursimbolon ) dan Rendy Reinhard ( @RendyNgapz ) yang merupakan rapper dan penyanyi yang tidak asing lagi di industri musik Indonesia.

the rehearsal

Dalam konser ini Bigknob Audio merasa bangga bisa turut berpartisipasi dengan memberikan support berupa preamp BAE 1073 DMP untuk dipakai oleh Ronald Steven (@rsteven) sebagai bassist sekaligus Music Director dalam konser ini. Selain itu juga ada speaker monitor Focal CMS65 yang digunakan untuk monitoring recording oleh Kris Choi (@KristianChoi). Di konser ini juga @mokobigbro turut berpartisipasi sebagai FOH Mixing Engineer.

@KristianChoi with #Focal CMS65

#BAE DMP for @rsteven

Semoga melalui konser “Jesus Rock” ini banyak orang-orang yang terberkati. Sukses untuk Disciples untuk album dan konser mereka dan semua pihak yang terlibat dalam konser ini!!

@disciplesRAP #JesusRockLive

Focal Professional SM9 received the MIPA Award as Best Studio Monitor 2012

 

The 13th edition of the MIPA took place during the international music fair, Musikmesse Frankfurt 2012. Awarded by over 100 magazines from around the world, the MIPA (Musikmesse International Press Award) honor the most outstanding products of the professional audio world. This year, after the CMS 50 and CMS 65, Focal received a third award for its SM9 monitoring loudspeaker.

The SM9 is the result of two years of Research and Development, and establishes itself as the benchmark monitor thanks to the precision of its stereophonic image, its capacity to reproduce the slightest micro-details in the audio signal and to its unconditional respect for the original dynamics.

It’s with great pride that the team from Saint-Étienne receives the MIPA 2012, proof of the great Focal expertise, an expertise Made in France.

Di balik produksi single terbaru D’Masiv: wawancara eksklusif dengan Kang Capung

Bagi anda para pecinta musik pop tanah air, pastinya nama D’Masiv sudah tidak asing lagi. Band yang digawangi oleh Rian Ekky Pradipta (vocals), Dwiki Aditya Marsall (guitarist), Nurul Damar Ramadan (guitarist), Rayyi Kurniawan Iskandar Dinata (bass), serta Wahyu Piadji (drums) ini baru saja merilis single terbaru mereka yang berjudul ‘Natural’. Big Knob Audio cukup beruntung bisa ngobrol-ngobrol seputar proses produksi dengan Kang Herry Purnomo aka Capung yang merupakan produser dari album D’masiv. Berikut ini petikan wawancara Radit dari Big Knob Audio bersama Kang Capung.

 

Kang Capung, boleh dijelaskan microphone apa yang digunakan ketika merekam vokal Rian dalam produksi single ‘Tak Bisa Hidup Tanpamu’?

vocal Rian artikulasinya sangat jelas, sehingga lirik demi lirik mesti bisa dinikmati beserta melodi, saya pilih neuman U87ai untuk memperjelas lirik-lirik Rian yg ‘unik’-. untuk mempertebal suara Rian, setiap reffrain atau bagian tertentu saya pertebal dengan mic ribbon AEA R84 dan 92, karena bottom end ribbon sangat membantu saat digabung dengan suara aslinya, tanpa ada  masalah phasing seperti jika menggunakan mic yg lain .

 Rian bernyanyi menggunakan Josephson C715 microphone

Untuk mic preamp pada vokal, apa yang menjadi pilihan Kang Capung dalam produksi lagu ini?

saya penggemar pre-amp solid state, karena dynamicnya sangat lebar-ga takut overdrive, terutama buat vocalis2 band yg ber power besar, plus transparansinya membantu ke artikulasi sang vocalis,

saya dibesarkan oleh Neve pre-amp, dan -hampir seluruh karya produksi saya selalu menggunakan nya utk vocal, drum dan bass–,karakter tebalnya menurut saya disukai oleh pendengar 2 musik-dan ada perasaan safe saat menggunakannya- untuk apapun .

 

Apakah menurut Kang Capung penggunaan compressor pada saat tracking vokal adalah hal yang wajib?

sebagian vocalis yang saya tangani(Ariel,Ryan,Giring ,Widi,dll) selalu menggunakan compresor, tapi dgn ratio yg kecil 2:1. 3:1 hanya utk berjaga2 saja, karena menurut saya , makin natural vocalis, makin mudah diterima oleh penggemarnya,

tapi saat mencoba smp2 Forsell pre-amp- saya cukup suprise dgn rasa transparan dan mewah nya , hingga saat merekam Rizky  D’Titans saya tidak menggunakan compresor sama sekali , jadi semuanya tergantung dengan sang vocalis dan jenis lagu yang dinyanyikannya..saran saya jika ingin pakai compresor, pakailah yg terbaik

 

Beralih ke track drum, mic apa yang digunakan untuk overhead?

selama ini telinga saya tidak masalah dengan SM-81 Shure, AKG C1000,414 standar studio dimana2,..tapi sejak mencoba memakai ribbon AEA R92 saya terkejut dgn kualitas mic ribbon sekarang ini, yang tahan dynamic keras, plus suara flat natural yang didapat untuk overhead drums-sangat membantu menangkap dinamika pukulan pemain drum, seperti dibungkus dengan compressor tapi bukan,

saat ingin variasi saya mencoba Josephson C42, ternyata saat digabung dengabn mic pre Forssell hasilnya sangat bagus, apalagi utk lagu-lagu mellow poprock-suaranya terasa lebih nge pop :) /mewah

 AEA R92 pada drum overhead

Selain itu, boleh dijelaskan signal chain pada saat merekam gitar?

 tergantung dari pemainnya dan konsep musiknya,misal:

untuk Lukman peterpan-yg sangat suka drive keras- close miking SM57 to Neve preamp/focusrite-dibantu dengab ambience mic Sennheiser MD 421 sekitar 30-50cm dari ampli gitar. saya jarang pakai compressor untuk merekam gitar electric-biasanya direct to protools .

untuk Ariel Nidji yang punya gitar-gitar vintage-selalu saya tambahkan mic condenser utk lebih menangkap nuansa nya-kadang Neumann U87

untuk akustik biasanya saya pakai dua mic condenser yg saya set stereo mic-plus mic pre dan sedikit compressor buat me-limit atasnya saja

 

AEA R84 digunakan pada saat tracking gitar akustik

Apa tips dari Kang Capung bagi para pemula yang baru mau memulai produksi?

 belajar mendengarkan banyak referensi-, mau mencoba hal2 baru, jangan takut berbuat salah -trust your instinct :)  dan terakhir–jujurlah dgn hatimu saat mendengar hasilnya ..

Rupert Neve Designs 5088 is the Centerpiece at Toronto’s Kuhl Muzik Studios

Toronto, ON, Canada — February 29, 2012 — The new 5088 desk is the centerpiece of a custom-made, wrap-around stainless steel console, a Zin-de-Zine design and creation, that has been ergonomically designed to place the principal components of Kühl Muzik’s hybrid digital/analog workflow conveniently within reach. Honess, who has been engineering and mixing for 15 years, began evaluating analog console options last year, arranging for demo units to be brought into the studio for extended periods. “I had been recording the same mix each time I had a new console in, summing it down through as many channels as possible. So I had references to go back to and hear the different characteristics of these consoles. As soon as I heard the 5088 I thought, this is the one I want. I loved it right away,” he says.

Honess assumed ownership of the facility, formerly known as Q Music Studios, in November 2011 after working as chief engineer for the previous owner, renowned Canadian film composer, Donald Quan, for over five years. The hybrid digital/analog setup, which is designed primarily for mixing music for film and television as well as for bands, combines the Rupert Neve Designs 5088, a Digidesign Pro Tools|HD workstation, panels from a Digidesign ProControl, analog microphone preamps and equalizers, digital reverbs and other ancillary equipment. A Genelec 5.1 monitor system and Quested stereo main monitors complete the setup.

“It’s still a work in progress, but all the main bits are in there,” says Honess. “There are a few more renovations I need to do, which will happen this year, then I’ll go into full launch mode. ” In the meantime, Honess has given Kuhl Muzik a soft launch and has started to introduce his clients to the new 5088 desk. “All of my clients love it,” says Honess. “It does the job nicely. As soon as I run my mixes through it, it’s quite a big hit. Most of the time they hear it as making everything sound more musical.”

Honess, in collaboration with Robin and Cynthia Keus of Zin-de-Zine, designed the unique stainless steel-panelled console into which the equipment is installed, dubbed the “Vimana” (a Sanskrit word that can mean temple, palace or chariot of the gods). The Toronto-based artisans also designed and fabricated the metal speaker stands for the studio’s Quested monitors. (To see more unique Zin-de-Zine creations visit www.zindezine.com.)

The custom metal structure matches the profile of the 5088 mixing console. “We wanted a smooth contour across the full width of the desk,” explains Honess. “The only way to do that was to separate the 5088’s meter bridge and move it back slightly. It actually allowed me to put my logo right in the middle. I put some nice lights underneath there, and it also acts as a heat vent.”

- taken from rupertneve.com -

ATC Speakers: The ‘Rolls-Royce’ of Monitoring

Dimulai dari gagasan Billy Woodman, yang mendirikan perusahaan ATC Acoustic Engineers pada tahun 1974. ATC memulai debutnya di dunia audio dengan memproduksi custom driver untuk industri profesional. Dimulai dari driver 12” yang bernomor seri PA75-314, ATC membuat gebrakan dengan desain driver yang dapat meng-handle power yang lebih besar dengan level distorsi yang sangat minimal pada Sound Pressure Level (SPL) yang tinggi.

 Fig.1. PA75-314 Driver (courtesy of www.talkaudio.co.uk)

Pada tahun 1976, ATC mulai memproduksi SM75-150 yang merupakan soft dome midrange driver. Driver ini lagi-lagi menggebrak pasar dengan desain yang sangat inovatif dan kemampuan dispersi yang sangat merata, bandwith yang lebih lebar, dan distorsi yang sangat minimal dibandingkan desain-desain lain pada era itu. Tidak hanyak menggebrak pasar, driver ini juga menjadi tonggak bersejarah di dunia studio monitoring, menjadikan SM75-150 sebagai mid-range transducer paling wahid di kelas consumer dan professional audio.

 Fig.2. SM75-150 Driver (courtesy of www.europe-audio.com)

Dekade selanjutnya menjadi saksi bagi perkembangan ATC sebagai produsen audio monitoring. Dengan dimulainya produksi ‘complete speaker system’ dan versi lanjutan dari PA drive unit berdaya besar yang digunakan oleh manufaktur lain dan para musisi seperti Pink Floyd dan Supertramp. Pada era ini pula ATC melakukan riset dan pengembangan untuk menciptakan sistem elemen aktif dengan mengenalkan EC23 Active crossover dengan built in phase correction.

 Fig.3. ATC SCM-20A

 Fig.4. ATC SCM-25A Pro

 Fig.5. ATC speakers in Abbey Road Studios

Filosofi ATC dengan mengedepankan riset dan pengembangan dari segi teknologi untuk menciptakan produk monitoring terbaik yang bisa didapatkan, benar-benar diaplikasikan dan menjadikan ATC sebagai produsen audio monitoring yang paling berkualitas dan terbaik yang bisa anda dapatkan. Sebuah statement yang terkadang tidak bisa dipercaya hingga pada saat anda mendengarkan sendiri kualitas dari reproduksi suara yang dihasilkan speaker ini. Apakah anda tertarik untuk mendengarkan speaker ini? Hubungi kami di Big Knob Audio.

 Fig.6. ATC Driver topology

-Radit (@rayaraproject)-

 

API 1608 IS THE CHOICE OF THE “S.T.R.Z”

 

API 1608 IS CHOICE OF THE “S.T.R.Z.”

HOLLYWOOD, CALIFORNIA – FEBRUARY 2012: Though founded just three years ago, S.T.R.Z. Enterprises is certainly not lacking in talent, experience, clientele or equipment. In fact, among the three producers/songwriters/engineers at S.T.R.Z. – Nick Gross, Mike Riley and Anthony Vasquez – previous credits include work with Common, Ke$ha, Marilyn Manson and Gavin Rossdale. When S.T.R.Z. Enterprises decided to open its own studio space, the three business partners knew that an API 1608 was exactly what the facility needed.

“It’s an all-around beautiful desk,” said Gross, who is also the drummer for rock band Open Air Stereo. “It’s easily maintained, a breeze to use, sounds killer, and looks great – not to mention how reasonably priced it is,” he said. “We have a few Neves and Chandlers for variation, but the 1608 is the heart of the room and we couldn’t be happier with how it’s working for us.”

Gross and Vasquez first met in 2009 doing session work and touring for Capitol Records artist Lolene with Gross on drums and Vasquez on keyboards. The two musicians formed S.T.R.Z. Enterprises shortly after the tour ended and subsequently recruited Riley, whom Gross had met previously while assisting on a session for Gavin Brown. With Riley’s studio, engineering and songwriting knowledge, the team was able to take its company to the next level and open its own recording space complete with a new console purchased through API dealer Alto Music.

“The first time I worked on an API desk was while assisting at Sage and Sound Studios,” said Riley. “They have a beautiful vintage API 3288 there. Drums sounded huge through it, and that’s where I fell in love with the 525s. Later, I went on to do work for Andrew Klippel and he had a newly installed API 1608. When it came time to pick a desk for S.T.R.Z., it was our first choice.”

Since acquiring the console, S.T.R.Z. Enterprises has recorded The Veronicas, Orianthi, Jacob Luttrell, Asher Monroe and many others. In addition to providing recording services, S.T.R.Z. Enterprises offers music production, sound design, post-production, and artist development.

“The 1608 has been used on every session we’ve had come through S.T.R.Z.,” said Gross. “It has definitely been a worthy investment.”

 

ABOUT API (AUTOMATED PROCESSES, INC.)
Established more than 40 years ago, Automated Processes, Inc. is the leader in analog recording gear with the Vision, Legacy Series and 1608 recording consoles, as well as its classic line of modular signal processing equipment.

www.apiaudio.com

Penggunaan Heil Sound, AEA, dan Mojave Mics Dalam Drum Recording

Beberapa waktu yang lalu, saya kebetulan mendapatkan kesempatan untuk menjajal beberapa microphone untuk digunakan dalam sesi rekaman drum. Berawal dari rasa penasaran, saya pun memutuskan untuk menggunakan microphone keluaran pabrikan Heil Sound, AEA,  dan Mojave. Untuk tipe-tipenya, berikut ini adalah daftarnya:

Heil Sound PR48 (kick)

Heil Sound PR28 (tom 1)

Heil Sound PR31BW (Snare)

Heil Sound PR30 (tom 2)

Heil Sound PR40 (floor tom)

AEA R84 (front stereo miking)

Mojave MA200 (ambience)

Diawali dengan penggunaan Heil PR48 pada kick, saya cukup menyukai karakter dari microphone ini yang dapat menangkap bodi sekaligus beater pada kick . Mempunyai  respons yang cukup sensitif di sekitar 4.5 kHz membuat mik ini dapat menangkap karakter suara dari beater pedal kick drum. Sedikit tips untuk posisi miking menggunakan microphone ini, saya menemukan posisi paling baik adalah menempatkan mik ini di antara outer skin dan body pada kick drum.

 Fig.1 Heil PR48 pada kick drum

Beralih kepada pemilihan microphone untuk merekam snare, saya merasa PR31BW mempunyai karakter yang cocok dengan snare yang saya gunakan untuk sesi kali ini. Menghasilkan suara yang cukup bright untuk menonjolkan attack dari snare itu sendiri, diseimbangkan dengan suara bodi dari snare kayu yang dapat ditangkap dengan baik oleh mik ini. Sedangkan untuk tom 1, PR28 menjadi pilihan saya pada sesi kali ini. Karakter bright yang dihasilkan mik ini lagi-lagi dapat diseimbangkan dengan proporsi low frequency dari tom yang dapat ditangkap dengan baik oleh mik ini. Hal senada juga saya rasakan ketika menggunakan PR30 dan PR40 untuk tom 2 dan floor tom.

 Fig.2 Heil PR31BW pada snare

 Fig.3. Heil PR28 pada tom

 Fig.4. Heil PR30 dan PR40 pada tom 2 dan floor tom

Sedangkan untuk menangkap suara keseluruhan dari drum kit, saya menggunakan microphone AEA R84 sebanyak dua buah. Kedua microphone ini diletakkan di depan drum kit dan diposisikan untuk teknik stereo miking yang disebut Blumlein. Pada dasarnya, Blumlein adalah penggunaan dua microphone dengan Fig.8 atau bipolar sebagai polar patternnya. Kedua mikrofon diletakkan vertikal  dengan bagian depan masing-masing mik diarahkan membentuk sudut 90 derajat sebagai sudut penangkapan suara. Menurut saya, terlepas dari karakter warm ribbon dari microphone AEA, Blumlein menghasilkan stereo imaging yang cukup akurat dengan kesan realisme atau natural yang dapat dirasakan.

 Fig.5. AEA R84 sebagai overfront mic (Blumlein technique)

Untuk track ambience, saya menggunakan Mojave MA200. Sebuah large diaphragm microphone yang  didesain oleh David Royer, desainer microphone kawakan  yang juga dikenal dengan produk ribbon microphone-nya yang bernama Royer Labs. Microphone ini benar-benar dapat menangkap ambience live room tempat saya merekam drum, dan menjadikan track drum saya menjadi lebih megah ketika saya menggabungkannya dengan channel yang lain.

 Fig.6. Mojave MA-200 sebagai ambience mic

Untuk mendengarkan hasil dari sesi drum tracking kali ini, silakan ke laman: http://soundcloud.com/user2475585/drum-recording

-Radit (@rayaraproject)

 

a little present with a big warm heart…happy valentine’s day!

 

Jakarta, 14 Feb 2012

setiap tanggal 14 Feb seluruh dunia (walaupun ngga semuanya) merayakan hari kasih sayang…mendadak di udara penuh dengan cinta, kata2 cinta, status2 cinta maupun status2 galau *upsss* :D

Berawal dari Monday Meeting mingguan tiba2 tercetus ide untuk membagi – bagikan sesuatu sebagai tanda terima kasih BigKnob Audio atas cinta dan dukungan temans2 semua. Persiapan (mendadak) pun dilakukan dan siang ini kami berbagi tugas untuk mengantarkan coklat…perjalanan panjang, macet yang tidak berkesudahan, panas yang tidak terelakan semua nya terbayarkan saat melihat senyum, ucapan terima kasih dan juga mention yang membanjiri akun twitter kami (btw udah pada tau kan akun twitter kami? itu loh @big_knob #promocolongan hohohoho)

Mohon  maaf untuk temans2 yang tidak menerima bingkisan kecil dari kami…tidak ada maksud dari kami untuk membeda – bedakan, ini semua karena keterbatasan tenaga kami dalam mengirimkan bingkisan nya. Mohon maaf sekali lagi yah temans2, minal aidin wal faizin *eh* *berasa lagi lebaran* :D

Sekali lagi, bingkisan kecil kami ini tidak sebanding dengan rasa terima kasih dan syukur kami atas semua hubungan yg baik dengan semua temans2…terima kasih terima kasih terima kasih dari hati kami yang paling dalam. Semoga temans2 tetap menempatkan BigKnob Audio sebagai tempat untuk mencari solusi di bidang sound.

“ The quality of your life is the quality of your relationships.” – Anthony Robbins

Andy ( @ahn_11 )

 

PS : Kami share sedikit foto2 yah…biar pada numpang nampang :D

@GendingMusic

@lavoice_studio

@StrlghtMscStd

@UPbeatStudio

@SAEJakarta visit @big_knob @brotherlandstd

SAE visit BigKnob Audio & Brotherland Studio

Jakarta, Sudirman Park, 02 Februari 2012

Di siang yang cerah itu, sekitar jam13an kami kedatangan tamu dari SAE Institute Jakarta. Tim SAE terdiri dari : Jack McCord (General Manager), Mark Andre Kneer (Head of Audio Department), Yandha Krisna (Audio Supervisor) dan juga murid – murid dari SAE. Seru!

 

at Mixing Room Brotherland Studio

Kami pun mengajak temans2 SAE berkeliling dan melihat markas besar BigKnob Audio [ @big_knob ] di lantai 1 dan kemudian melihat – lihat Brotherland Studio  [ @brotherlandstd ] di lantai 2 ( Tracking Room), lantai 3 (Mixing Room) dan lantai 4 (Mastering Room). Kami lalu berkumpul di lantai 3, di Mixing Room BL. Kemudian temans2 SAE mendapatkan penjelasan dari centeng Brotherland Studio yaitu Tonee Prajogo [ @g4r3nk ]. Suasana berlangsung dengan asik, penuh dengan interaksi dan juga temans2 SAE mencoba mengulik alat – alat yang ada di Mixing Room itu. As always, good time flies so fast…dan tidak terasa waktu sudah hampir sore dan  kita menutup kunjungan hari itu dengan acara wajib…foto bareng! :D

Everyone had a good time! :)

 

Terima kasih banyak SAE Institute Jakarta yang sudah meluangkan waktu berkunjung ke “playground” kami, mohon maaf untuk segala kekurangan nya…dan jangan kapok yah maen kesini *cheers*

 

Andy ( @ahn_11 )

Page 1 of 41234»